MASAPNEWS – Usaha batik khas Dayak Kalimantan Tengah (Kalteng) atau yang biasa dikenal dengan benang bintik mulai bangkit di tengah pandemi COVID-19 yang melanda dunia.
Pemilik Toko Batik Bahalap, Gusti Ray Novhanda saat dihubungi dari Kuala Kurun, Jumat mengatakan bahwa saat awal terjadi pandemi COVID-19, permintaan terhadap benang bintik sempat mengalami penurunan yang drastis.
“Toko Batik Bahalap yang terletak di Palangka Raya sempat tutup selama dua bulan saat awal terjadi pandemi COVID-19. Selama tutup, omset kami menurun drastis,” ucap Gusti Ray Novhanda.
Dia menerangkan, sebelum terjadi pandemi COVID-19, Toko Batik Bahalap biasanya rutin menerima pembelian dan pesanan dari berbagai pihak, baik instansi maupun masyarakat umum dari berbagai daerah.
Khusus instansi pemerintahan, ujar dia, biasanya memesan benang bintik saat pelaksanaan suatu kegiatan atau event, seperti Festival Budaya Isen Mulang dan lainnya.
Bahkan, kata dia, benang bintik Toko Batik Bahalap sering menjadi cenderamata atau buah tangan bagi masyarakat luar Kalteng yang kebetulan berkunjung ke Palangka Raya.
“Benang bintik dari Toko Batik Bahalap juga menembus seluruh provinsi di Kalimantan, beberapa kota besar di pulau Jawa dan Sumatera, bahkan pernah ada pesanan dari Australia dan Rumania,” bebernya.
Pandemi COVID-19 yang terjadi di dunia, termasuk di Palangka Raya, menyebabkan sejumlah event tidak dapat diselenggarakan. Hal itu turut mempengaruhi penjualan benang bintik di Toko Batik Bahalap.
Bahkan, pandemi COVID-19 sempat membuat Toko Batik Bahalap tutup selama dua bulan, dan menyebabkan transaksi penjualan di toko yang terletak di Jalan Thamrin itu menurun drastis.
“Saat itu penjualan benang bintik di Toko Batik Bahalap menurun drastis. Upaya menjual secara online sudah kami lakukan, namun jumlah masyarakat yang membeli juga tidak banyak,” tuturnya.
Menurut dia, saat awal terjadi pandemi COVID-19 masyarakat lebih mengutamakan membeli sembako, masker, vitamin, hand sanitizer, dan hal-hal lainnya terkait kesehatan.
Saat penjualan masker laris manis, sambung dia, Toko Batik Bahalap tidak berniat ikut membuat masker, dengan pertimbangan khawatir masker yang dibuat tidak sesuai standar kesehatan.
Dia menyebut, seiring berjalannya waktu, tatanan hidup baru mulai diberlakukan dimana sejumlah aktivitas kembali berjalan dengan menerapkan protokol kesehatan COVID-19.
Sejak Agustus 2020 lalu, Toko Batik Bahalap juga kembali beroperasi, mulai Senin sampai Sabtu tepatnya pada pukul 10.00 – 16.00 WIB, dengan menerapkan protokol kesehatan COVID-19.
Selain itu, penjualan secara online juga tetap dilakukan. Walau hasil penjualan baik secara online maupun offline belum kembali seperti sedia kala, namun dapat dikatakan transaksi penjualan sudah mulai bangkit.
Lebih lanjut, dia menegaskan akan selalu setia pada usaha benang bintik, sebagai upaya melestarikan dan mengenalkan budaya Dayak Kalteng kepada masyarakat umum.
Secara khusus, dia berharap Hari Batik Nasional yang dirayakan setiap tanggal 2 Oktober dapat menjadi momentum bagi pelaku usaha benang bintik untuk bangkit di tengah pandemi COVID-19.
Bangkit yang dimaksud di sini tidak hanya dari segi penjualan, namun juga dari segi kreativitas. Sebab, selama ini motif yang ditampilkan pada benang bintik masih bersifat umum, seperti batang garing, rumah betang, burung tingang, atau balanga.
Dia berharap nantinya semua kabupaten/kota di Kalteng memiliki dan mengangkat motif benang bintik khusus, yang menjadi ciri khas dari kabupaten/kota masing-masing.
“Harapan saya setiap kabupaten/kota di Kalteng bisa mengangkat motif ciri khas masing-masing. Melalui motif kita melestarikan budaya leluhur yang memiliki makna dan arti ciri khas orang Dayak,” jelas Gusti Ray Novhanda. (MN-3)









