Selamat Pagi | Minggu, Juli 5, 2026
Masap News Portal Berita Online Terpercaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Politik
  • Berita Daerah
    • Palangka Raya
    • Katingan
    • Gunung Mas
      • Pemerintah Kabupaten Gunung Mas
      • DPRD Kabupaten Gunung Mas
    • Kotawaringin Timur
      • DPRD Kotawaringin Timur
    • Barito Selatan
    • Barito Timur
    • Barito Utara
    • Kapuas
    • Kotawaringin Barat
    • Lamandau
    • Murung Raya
    • Pulang Pisau
    • Seruyan
    • Sukamara
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Pariwisata
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Opini
Masap News Portal Berita Online Terpercaya
Home Berita Daerah Gunung Mas

IPM Gunung Mas : Pencapaian, Strategi, dan Tantangan

adminmasap by adminmasap
Januari 20, 2021
in Gunung Mas, Opini
0
Akhino Yogi Pranata, Statistisi Pertama BPS Kabupaten Gunung Mas

Akhino Yogi Pranata, Statistisi Pertama BPS Kabupaten Gunung Mas

81
SHARES
621
VIEWS






Oleh : Akhino Yogi Pranata, Statistisi Pertama BPS Kabupaten Gunung Mas

United Nations Development Programme (UNDP) mengatakan bahwa tujuan utama dari pembangunan adalah untuk menciptakan lingkungan yang memungkinkan bagi masyarakat untuk menikmati umur panjang, sehat, dan menjalankan kehidupan yang produktif.  Manusia bukan lagi dianggap sebagai alat pembangunan melainkan menjadi tujuan akhir pembangunan.

Pengukuran pembangunan manusia pertama kali diperkenalkan oleh UNDP pada tahun 1990. UNDP memperkenalkan sebuah gagasan baru dalam pengukuran pembangunan manusia yang disebut sebagai Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Sejak saat itu, IPM dipublikasikan secara berkala dalam laporan tahunan Human Development Report (HDR).

IPM mengukur capaian pembangunan manusia berbasis sejumlah komponen dasar kualitas hidup. Sebagai ukuran kualitas hidup, IPM dibangun melalui pendekatan tiga dimensi dasar. Dimensi tersebut mencakup kesehatan; pendidikan, dan standar hidup yang layak.

Pada tahun 2010, UNDP secara resmi memperkenalkan penghitungan IPM dengan metode baru, akan tetapi Badan Pusat Statistik (BPS) baru mengimplementasikannya pada tahun 2015. Hal ini karena pertimbangan ketersediaan data di seluruh kabupaten/kota se-Indonesia.

IPM Gunung Mas Tahun 2020 sebesar 70,81, yang mana angka tersebut masuk capaian kategori tinggi. IPM Gunung Mas berada diurutan ke-5 dari seluruh kabupaten/kota se-Kalimantan Tengah. Rata-rata pertumbuhan IPM Gunung Mas dari tahun 2011-2020 sebesar 0,66 persen per tahun dengan total kenaikan selama 10 tahun terakhir sebesar 4,48 poin.

Capaian tersebut menunjukkan tren positif terhadap pembangunan manusia di Kabupaten Gunung Mas dan sebagai hasil nyata dari kerja keras seluruh stakeholder selama kurun waktu 10 tahun terakhir.

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, IPM dibangun dari 3 dimensi. Dimensi pertama yaitu kesehatan. Dimensi ini diukur dengan Angka Harapan Hidup (AHH), yaitu rata-rata perkiraan banyak tahun yang dapat ditempuh seseorang selama hidup.

AHH Gunung Mas Tahun 2020 sebesar 70.40, artinya bayi yang baru lahir diperkirakan dapat menjalani hidup hingga usia 70-71 tahun. Angka tersebut naik sebesar 0.08 poin dibandingkan tahun sebelumnya.

Dilihat dari tren dari tahun 2010, AHH Gunung Mas selalu meningkat dengan total kenaikan sebesar 1,17 poin. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan derajat kesehatan masyarakat Kabupaten Gunung Mas.

Untuk menjaga agar AHH terus berada di tren positif maka diperlukan strategi yang efektif dan efisien yang didasarkan oleh faktor-faktor yang memengaruhi AHH.

Setidaknya ada dua poin penting yang dapat dilakukan Pemerintah Daerah dalam melakukan intervensi AHH. Pertama, mencipatkan lingkungan tempat tinggal yang bersih dan sehat. Lingkungan yang bersih dan sehat akan meminimalkan risiko terserang berbagai macam penyakit.

Berdasarkan data BPS Tahun 2020, masih terdapat 16,32 persen rumah tangga di Gunung Mas yang belum memiliki fasilitas buang air besar sendiri. Selain itu, hampir seperempat rumah tangga di Gunung Mas belum mendapatkan akses sanitasi yang layak.

Kedua, ketersediaan dan pemerataan fasilitas dan tenaga kesehatan di setiap desa/kelurahan. Berdasarkan data BPS Tahun 2019, seluruh desa/kelurahan telah memiliki fasilitas kesehatan baik itu berupa rumah sakit, puskesmas, pustu, ataupun posyandu.

Namun, tenaga kesehatan belum tersebar merata. Tenaga kesehatan masih terpusat di ibukota kecamatan sehingga masih banyak desa yang minim tenaga kesehatan.

Selanjutnya, dimensi kedua yaitu pendidikan. Dimensi ini diukur dengan rata-rata lama sekolah (RLS) dan harapan lama sekolah (HLS). RLS dihitung dari usia 25 tahun ke atas, sedangkan HLS dihitung dari penduduk usia 7 tahun ke atas.

Penggunaan usia 25 tahun pada RLS dilakukan dengan pertimbangan bahwa umumnya penduduk usia 25 tahun ke atas tidak bersekolah kembali, sedangkan penggunaan usia 7 tahun pada penghitungan HLS dilakukan agar sejalan dengan ketentuan pada undang-undang pendidikan nasional.

RLS Gunung Mas Tahun 2020 sebesar 9,14, artinya penduduk Gunung Mas yang berusia 25 tahun ke atas rata-rata sudah menempuh pendidikan formal 9-10 tahun, setara dengan menyelesaikan SMP kelas 3. Rata-rata pertumbuhan RLS selama 10 tahun terakhir 0,65 persen.

Selain itu, HLS Gunung Mas Tahun 2020 sebesar 11,78, artinya penduduk Gunung Mas yang berusia 7 tahun yang mulai bersekolah diperkirakan dapat menjalani pendidikan hingga 11-12 tahun, setara dengan SMA kelas 2 atau kelas 3. Rata-rata pertumbuhan HLS selama 10 tahun terakhir 1,10 persen.

Poin penting upaya pembangunan manusia dari bidang pendidikan ialah tersedia dan meratanya sarana dan prasarana pendidikan. Apabila poin tersebut tidak tercapai maka jumlah siswa putus sekolah semakin meningkat.

Berbagai upaya yang telah dilakukan Pemerintah Daerah untuk meminimalkan kejadian putus sekolah tersebut seperti pembangunan sekolah satu atap, pemeliharaan dan revitalisasi bangunan sekolah, penambahan jumlah kelas,  penambahan jumlah guru, dan lain sebagainya.

Namun, upaya tersebut juga harus diiringi oleh sarana pendukung yang memadai seperti infrastruktur jalan dan penerangan. Ketersedian jalan yang baik tentunya akan mempermudah mobilitas siswa dan guru untuk menuju tempat pembelajaran.

Tidak kalah pentingnya lagi di Gunung Mas ialah menanamkan pemahaman kepada orang tua dan anak bahwa pendidikan itu sangat penting dan berpengaruh untuk masa depan anak. Betapa banyak anak putus sekolah karena tidak tahu pendidikan yang sedang dijalani tersebut bermanfaat atau tidak untuk dirinya di kemudian hari.

Pada akhirnya anak tersebut memilih untuk putus sekolah baik atas keinginan sendiri maupun keinginan orang tua, kemudian bekerja membantu orang tua di sektor pertambangan atau perkebunan.

Dimensi yang terakhir ialah standar hidup yang layak. Dalam cakupan lebih luas, standar hidup layak menggambarkan tingkat kesejahteraan yang dinikmati oleh penduduk sebagai dampak semakin membaiknya ekonomi.

UNDP mengukur standar hidup layak menggunakan Produk Nasional Bruto (PNB) per kapita yang disesuaikan. Akan tetapi, tidak semua wilayah di Indonesia memiliki indikator tersebut, maka dipilih alternatif lain dengan memanfaatkan indikator pendapatan/pengeluaran. Indikator ini tersedia hingga level wilayah kabupaten/kota.

Oleh karena itu, BPS dalam menghitung standar hidup layak menggunakan rata-rata pengeluaran per kapita riil yang disesuaikan dengan paritas daya beli.

Berdasarkan data BPS Tahun 2020, rata – rata pengeluaran per kapita yang disesuaikan di Gunung Mas sebesar 10,79 juta per tahun. Angka ini menurun dari tahun sebelumnya sebesar 10,82 juta per tahun. Namun jika dilihat dari rata-rata pertumbuhan selama 10 tahun terakhir, indikator standar hidup layak tersebut  menunjukkan rata-rata pertumbuhan sebesar 1,97 persen.

Intervensi baik dari Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah sangat penting untuk menjaga stabilitas pendapatan/pengeluaran terlebih dikala pandemi Covid-19. Berbagai macam program bantuan sosial sangat dibutuhkan pada saat ini untuk tetap menjaga masyarakat rentan dapat memenuhi kebutuhan dasarnya.

Di samping itu, program-program penciptaan lapangan pekerjaan harus tetap dilaksanakan. Angkatan kerja pun perlu diberikan akses peningkatan ketrampilan dan kapasitasnya. Selain itu, membantu pelaku usaha khususnya UMKM dengan memberikan kemudahan izin usaha, kredit usaha, dan bimbingan kewirausahaan.

Secara umum, pencapaian IPM Gunung Mas sudah baik bahkan sudah masuk capaian kategori tinggi. Untuk terus meningkatkan IPM tidak bisa hanya fokus di satu dimensi melainkan ke-3 dimensi itu harus berjalan beriringan. Tingginya pertumbuhan ekonomi di Gunung Mas harus dibarengi dengan peningkatan kualitas hidup penduduknya.

Previous Post

Pembangunan jaringan listrik dua kecamatan diupayakan tahun 2021

Next Post

Operasi Yustisi diharap tingkatkan kesadaran masyarakat Gumas terapkan prokes

Related Posts

Cegah Gangguan Keamanan, Piket Pamapta Sisir Titik Keramaian Kuala Kurun
Gunung Mas

Cegah Gangguan Keamanan, Piket Pamapta Sisir Titik Keramaian Kuala Kurun

Juli 4, 2026
38 Personel Polres Gumas Resmi Sandang Pangkat Baru
Gunung Mas

38 Personel Polres Gumas Resmi Sandang Pangkat Baru

Juli 1, 2026
Potong Tumpeng Warnai Syukuran Bhayangkara ke-80 di Polres Gumas
Gunung Mas

Potong Tumpeng Warnai Syukuran Bhayangkara ke-80 di Polres Gumas

Juli 1, 2026
Peringati Bhayangkara ke-80, Polres Gumas Tegaskan Komitmen di Sektor Pangan dan Gizi
Gunung Mas

Peringati Bhayangkara ke-80, Polres Gumas Tegaskan Komitmen di Sektor Pangan dan Gizi

Juli 1, 2026
Hasil Panen Petani Binaan Polsek Sepang Sukses Masuk Gudang Bulog
Gunung Mas

Hasil Panen Petani Binaan Polsek Sepang Sukses Masuk Gudang Bulog

Juni 30, 2026
Polres Gumas Beberkan Capaian Semester I 2026, Gulung Pencuri Sawit dan Basmi Narkoba
Gunung Mas

Polres Gumas Beberkan Capaian Semester I 2026, Gulung Pencuri Sawit dan Basmi Narkoba

Juni 29, 2026
Next Post
Ketua DPRD Kabupaten Gumas, Akerman Sahidar. (Foto : Sekretariat DPRD Kabupaten Gumas)

Operasi Yustisi diharap tingkatkan kesadaran masyarakat Gumas terapkan prokes

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terpopuler

  • Tim Skyger Vertical Voyage Indonesia yang sempat dikabarkan hilang saat melakukan ekspedisi ditemukan selamat di wilayah Desa Harowu, Kecamatan Miri Manasa, Kabupaten Gunung Mas, Jumat (27/8/2021). (Foto : Dokumentasi pribadi)

    Sempat dikabar hilang, Tim Ekspedisi Panjat Tebing Puruk Sandukui ditemukan selamat

    717 shares
    Share 287 Tweet 179
  • Polres Gumas Amankan Tiga Tersangka Illegal Mining

    495 shares
    Share 198 Tweet 124
  • Berikut asal nama Tahura Lapak Jaru, satu-satunya tahura di Kalteng

    453 shares
    Share 181 Tweet 113
  • Sejumlah warga Kalteng jadi korban investasi bodong hingga Rp2 miliar lebih

    391 shares
    Share 156 Tweet 98
  • Berbalas Pantun Warnai Pembukaan Musda IV MD-AHK Kabupaten Gumas

    291 shares
    Share 116 Tweet 73
Masap News Portal Berita Online Terpercaya

Follow us on social media:

Informasi

Tentang Kami
Pedoman Media Siber
Redaksi
Info Pemasangan Iklan

Kategori

  • Barito Selatan
  • Barito Timur
  • Barito Utara
  • Berita Daerah
  • DPRD Kabupaten Gunung Mas
  • DPRD Kotawaringin Timur
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Gunung Mas
  • Hiburan
  • Internasional
  • Kapuas
  • Katingan
  • Kotawaringin Barat
  • Kotawaringin Timur
  • Kriminal
  • Lamandau
  • Murung Raya
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini
  • Palangka Raya
  • Pariwisata
  • Pemerintah Kabupaten Gunung Mas
  • Politik
  • Pulang Pisau
  • Seruyan
  • Sukamara
  • Uncategorized
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Internasional
  • Politik
  • Berita Daerah
    • Palangka Raya
    • Katingan
    • Gunung Mas
      • Pemerintah Kabupaten Gunung Mas
      • DPRD Kabupaten Gunung Mas
    • Kotawaringin Timur
      • DPRD Kotawaringin Timur
    • Barito Selatan
    • Barito Timur
    • Barito Utara
    • Kapuas
    • Kotawaringin Barat
    • Lamandau
    • Murung Raya
    • Pulang Pisau
    • Seruyan
    • Sukamara
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Pariwisata
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Opini

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.