MASAPNEWS – Balai Arkeologi Kalimantan Selatan menemukan teknik pengerjaan logam kuno sekitar abad 12-19 di sejumlah sungai di wilayah Kecamatan Gunung Timang, Montallat, Teweh Timur dan Teweh Baru Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah.
“Balai Arkeologi Kalsel yang wilayah kerja di bidang arkeologi di daerah Kalimantan ini melakukan penelitian pada 2017-2018 lalu di wilayah Barito Utara,” kata Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan dan Olaharaga (Disbudparpora) Barito Utara Hj Annisa Cahyawati di Muara Teweh, Rabu.
Menurut dia, masyarakat di pedalaman Barito Utara tersebut memiliki kebudayaan yang tinggi sejak lebih dari 5 abad silam antara lain memiliki keahlian memproses logam mulai dari proses penambangan biji besi hingga memproses menjadi salah satu produk logam.
Teknik pengerjaan membuat benda logam dari bahan baku yang didapat dari menambang batu besi menjadi bahan setengah jadi (logam mentah) melalui peleburan sampai terbentuk benda atau alat besi yang diinginkan berupa senjata yang ampuh/sakral dengan menggunakan tungku.
Kepala Dinas
Budparpora Barito Utara Hj Annisa Cahyawati bersama salah seorang petugas di
Balai Arkeologi Kalsel, di Muara Teweh, Senin
(21/6/2021).ANTARA/HO-Disbudparpora Barut
“Serangkaian proses aktivitas peleburan biji besi (manitik) tradisi nenek
moyang kita,” katanya.
Hal ini, kata dia, membuktikan bahwa sejarah dan perkembangan teknologi logam
serta keahlian nenek moyang mengolah logam dapat dimaknai sebagai nilai-nilai
kebudayaan yang menjadi identitas dan kebanggaan daerah bahkan nasional.
“Dengan memahami sejarah dan asal usulnya, tradisi ini dirasa perlu kita
lestarikan sebagai salah satu teknologi tradisional bagian dari Objek Pemajuan
Kebudayaan (OPK). Dan setidaknya sebagai pewaris atau pelaku pandai besi yang
merupakan proses akhir pembuatan alat besi setelah melalui tahap hingga
penempaan untuk di bentuk menjadi sebuah alat,” jelas Annisa.
Dia mengatakan pemanfaatan potensi pandai besi peninggalan arkeologi di wilayah
Barito Utara dapat menjadi alternatif diantaranya sebagai Wisata Budaya Minat
Khusus yang diharapkan berdampak untuk meningkatkan perekonomian masyarakat
sekitar.
“Ini menjadi salah satu fokus Dinas Budparpora Barito Utara dalam upaya
pelestarian kebudayaan dan pengembangan pariwisata di daerah ini,” ujar
Annisa. (ANT/MN-3)









