MASAPNEWS – Pemerintah Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, melalui program Dinas Pertanian setempat pada tahun anggaran 2020 ini melaksanakan perbaikan jaringan irigasi sekitar 800 hektare di tiga Kecamatan di daerah ini yang dikerjakan secara swakelola oleh kelompok petani untuk petani setempat.
Kepala Dinas Pertanian Barito Utara Setia Budi di Muara Teweh, Jumat, mengatakan bahwa proyek kegiatan perbaikan jaringan irigasi di tiga kecamatan yaitu Kecamatan Teweh Selatan, Gunung Timang dan Montallat dengan sasaran perbaikan jaringan irigasi 800 hektare itu dikerjakan secara swakelola (dari petani untuk petani).
“Jadi, Dinas Pertanian hanya meminjamkan alat berat dan biayanya semua ditanggung oleh petani. Kemudian juga ada bantuan mobilisasi alat berat dari Bupati Barito Utara H Nadalsyah,” katanya.
Menurut dia, perbaikan jaringan irigasi ini juga merupakan dorongan dari Bupati Barito Utara Nadalsyah dalam rangka bagaimana daerah ini bisa mencapai target swasembada beras.
“Jadi selama ini, proyek-proyek yang dikerjakan secara swakelola dikerjakan tanpa ada papan proyek, karena tidak menggunakan kontraktor, rekanan dan kemudian volume kegiatan juga harus sesuai dengan RAB,” kata dia.
Dia memberikan contoh, di Desa Trahean Kecamatan Teweh Selatan, perbaikan jaringan irigasi ditargetkan sepanjang 1.200 meter ternyata terbangun 5.000 meter. Kemudian di Desa Majangkan 900 meter terbangun hampir 2.200 meter saluran irigasi.
“Jadi yang namanya pekerjaan yang dilakukan secara swakelola dikerjakan para petani untuk petani. Kalau kita menggunakan rekanan atau kontraktor sangat jelas volume yang dikerjakan. Dan anggaran untuk itu langsung dikelola oleh kelompok taninya, bukan di dinas pertanian. Dan tidak dalam bentuk faktual,” jelas Budi.
Kadis Pertanian ini menjelaskan bahwa kalau program kegiatan perbaikan jaringan irigasi di tiga kecamatan ini ada yang mengatakan pekerjaan atau proyek siluman, artinya yang bersangkutan tidak memahami tata cara pengelolaan anggaran.
“Kalau ada yang mengatakan pekerjaan perbaikan irigasi ini proyek siluman tanpa ada papan proyek, saya pikir yang bersangkutan tidak mengerti tata pengelolaan anggaran saja, karena swakelola ini tidak menggunakan perusahaan (rekanan),” tegas dia.
Dalam kegiatan itu kelompok tani juga dibantu RAB gambar dari pendamping dari Dinas Pertanian. Kegiatan perbaikan jaringan irigasi di tiga kecamatan ini dinamakan “OPLASERASI” (Optimalisasi Lahan, Selamatkan Rawa, Sejahterakan Petani).
“OPLASERASI ini adalah kegiatan perbaikan jaringan saluran irigasi dari Desa Majangkan, Desa Baliti, Desa Ketapang, Desa Rarawa, Montallat, Tumpung Laung, Desa Pepas yang menggunakan alat berat dari Dinas yang dikerjakan secara swakelola dari petani untuk petani,” ujar Budi. (ANT/MN-3)









