MASAPNEWS – Peneliti Pusat
Penelitian dan Pengembangan Hutan Badan Litbang dan Inovasi (Puslitbang Hutan
BLI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Raden Garsetiasih
mengatakan, sejumlah desa di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah memiliki
keanekaragaman hayati dari ekosistem lahan gambut.
“Tim telah melakukan survei ekologi dan pengumpulan data sosial ekonomi di
Desa Taruna, Tumbang Nusa, Pilang dan Garung, Kecamatan Jabiren Raya. Selain itu
juga terhadap Desa Gohong, Kecamatan Kahayan Hilir,” kata Garsetiasih di
Pulang Pisau, Rabu.
Dalam Forum Group Discussion (FGD) di Pulang Pisau terkait konservasi kehati
ekosistem gambut dalam mendukung peningkatan ekonomi masyarakat, ia menjelaskan
pemulihan fungsi ekologis gambut, tak lepas dari perlindungan terhadap
keanekaragaman hayati.
Selain itu, data dan informasi sosial, ekonomi, serta kelembagaan yang ada di
masyarakat sekitar ekosistem gambut, juga memiliki peran penting, karena
memengaruhi strategi pengelolaan secara tepat yang dapat mendukung ekosistem
gambut berkelanjutan untuk menyejahterakan masyarakat.
Lebih lanjut ia mengungkapkan, bersama tim telah melakukan kajian konservasi
biodiversitas ekosistem gambut di Pulang Pisau. Kajian ini dilakukan
berdasarkan tipe kedalaman gambut, yaitu gambut dalam, sedang dan dangkal.
Menurutnya berdasarkan pengamatan terhadap flora, terdapat jenis-jenis
potensial yang masih ada, meski sebagian jenis tanaman pohon ramin, serta
jelutung sudah mulai berkurang.
Sedangkan untuk fauna, peneliti menemukan sebanyak 51 spesies jenis burung
dengan keragamannya masuk dalam kategori sedang, sedangkan untuk amfibi, reptil
dan mamalia termasuk dalam katagori rendah.
“Kategori kurang hingga rendah ini yang selanjutnya kami rekomendasikan
untuk kegiatan restorasi,” jelasnya.
Dalam menyusun strategi konservasi keanekaragaman hayati, diperlukan pertukaran
informasi dan pengetahuan bersama pemangku kepentingan dan masyarakat, guna
dikolaborasikan dengan data yang didapat tim di lapangan.
Identifikasi dan inventarisasi flora dan fauna serta biofisik ekosistem gambut,
sangat penting dilakukan untuk mengetahui kondisinya, sehingga bisa merumuskan
strategi yang tepat untuk pengelolaan selanjutnya.
Ia menekankan restorasi flora pada ekosistem gambut harus disesuaikan dengan
jenis lokal yang menjadi pakan satwa liar disana, untuk mencegah konflik satwa
yang memasuki permukiman akibat pakan di habitatnya berkurang.
Tidak kalah penting adalah koridor konservasi yang dibangun dengan
mempertimbangkan jenis-jenis yang disukai oleh satwa liar sehingga meningkatkan
persentase reproduksinya.
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Pulang Pisau
Hanafi yang membuka FGD mewakili pimpinan daerah mengungkapkan, pemkab
menyambut baik penelitian mengenai konservasi kehati di ekosistem gambut ini.
Hanafi berharap hasil penelitian nantinya dapat memberikan manfaat bagi
pemerintah daerah, khususnya dalam peningkatan perekonomian masyarakat di
lokasi lahan gambut di kabupaten setempat yang cukup luas.
Didampingi Kepala Puslitbang Hutan KLHK Kepala Bidang Kerjasama dan Diseminasi
Puslitbang Hutan KLHK Ahmad Gadang Pamungkas, dirinya menjelaskan kepentingan
dan pemulihan lahan gambut tak lepas dari potensi lahan gambut yang merupakan
habitat flora dan fauna.
Pemanfaatan ekosistem lahan gambut yang dilakukan dengan intensitas tinggi dan
eksploitasi periode waktu yang pendek, kata dia, mengakibatkan kelangkaan dan
produktivitas hasil yang rendah, sehingga memerlukan upaya pengembangan dan
strategi pengelolaan. (ANT/MN-3)









