MASAPNEWS – Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah Nomi Aprilia mengapresiasi sejumlah pelajar SMAN 1 Kuala Kurun yang ikut berjualan saat car free day (CFD) atau hari bebas kendaraan bermotor perdana di daerah setempat.
“Saya harap ke depan semakin banyak generasi muda yang memanfaatkan CFD untuk berwirausaha,” ucapnya saat dihubungi awak media dari Kuala Kurun, Rabu, 5 November 2025.
Dengan belajar berwirausaha, para pelajar tadi akan mendapat pengalaman langsung suka duka yang dihadapi di lapangan, sehingga mereka akan lebih menghargai kerja keras dalam mencari uang.
Selain itu, wakil rakyat dari daerah pemilihan I meliputi Kecamatan Sepang, Mihing Raya, dan Kurun ini juga berharap generasi muda menjadi generasi berkarakter dan tahan banting.
“Tak hanya itu, dengan berwirausaha mereka juga akan dituntut kreatif supaya bisa bersaing dengan pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) lain di arena CFD,” kata politisi PDI Perjuangan itu.
Alumni Universitas Palangka Raya ini mendorong OSIS SMAN 1 Kuala Kurun agar berwirausaha secara berkelanjutan di momen CFD, sehingga mereka terbentuk menjadi generasi muda yang mandiri, kreatif, dan peduli terhadap lingkungan.
Sebelumnya, OSIS SMAN 1 Kuala Kurun bersama 123 pelaku UMKM memanfaatkan CFD perdana di Gumas untuk berjualan. CFD perdana tersebut dipusatkan di Jalan Diponegoro Kuala Kurun, Sabtu (1/11).
Wakil Ketua OSIS SMAN 1 Kuala Kurun Yefta Arya Bima menyampaikan, ada beragam kuliner yang mereka pasarkan antara lain buah potong, pentol pedas, kue cheesecake, dan es teh.
Yefta yang didampingi anggota Bidang 6 OSIS menyebut, mereka harus mengeluarkan modal Rp400 ribu untuk menghasilkan beragam makanan dan minuman yang akan dijual saat CFD.
Awalnya mereka hanya menyiapkan 17 bungkus buah potong, 27 bungkus pentol pedas, 11 bungkus cheesecake, dan 25 gelas es teh, karena takut tidak habis terjual jika menyiapkan banyak.
Semua jenis makanan dijual dengan harga Rp10 ribu per bungkus, sedangkan es tes Rp5 ribu per gelas. Ternyata, dalam waktu sekitar satu jam 30 menit semua dagangan mereka habis terjual.
“Keuntungan penjualan ini nantinya akan masuk ke kas OSIS, dan jika kami memerlukan anggaran untuk melaksanakan suatu kegiatan kami bisa menggunakan uang tadi,” demikian Yefta. (IST)









