MASAPNEWS – Pemerintah Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah, resmi mengganti nama festival budaya tahunan yakni Festival Budaya Mihing Manasa (FBMM) menjadi Festival Budaya Tambun Bungai (FBTB).
Bupati Gumas Jaya S Monong saat malam penutupan FBMM 2026 di Kuala Kurun, Senin malam, mengatakan pergantian nama tersebut dilakukan karena beberapa alasan dan pertimbangan.
“Pemilihan nama Tambun Bungai adalah karena kedua sosok legendaris tersebut berasal dari Gumas, tepatnya dari Desa Tumbang Pajangei, Kecamatan Tewah. Bahkan Kalteng dijuluki sebagai Bumi Tambun Bungai,” ungkapnya.
Sejalan dengan itu, Bupati dan Wakil Bupati Gumas juga memiliki program unggulan yakni Program Tambun Bungai. Artinya pergantian nama menjadi Tambun Bungai sekaligus untuk menyelaraskan dengan program kepala daerah.
Di sisi lain, Pemkab Gumas sedang memproses perbaikan nama dua kecamatan di kabupaten setempat yang saat ini bernama Mihing Raya dan Miri Manasa. Nama kedua kecamatan ini kurang pas, di mana yang pas adalah Mihing Manasa dan Miri Raya.
Jika nantinya perubahan nama kecamatan terwujud yakni Miri Manasa menjadi Miri Raya dan Mihing Raya menjadi Mihing Manasa, maka penggunaan nama FBMM dikhawatirkan akan menimbulkan kesan festival budaya hanya dilakukan untuk satu kecamatan.
“Ini yang harus kami luruskan, supaya tidak ada persepsi macam-macam,” ungkap orang nomor satu di Bumi Habangkalan Penyang Karuhei Tatau itu.
Peresmian FBTB ditandai dengan pemukulan gong yang dilakukan oleh Bupati Gumas, disertai dengan peluncuran logo baru yang memuat sejumlah elemen budaya yang kaya makna.
Motif latar pada logo berupa ragam hias khas Kalimantan mencerminkan kebudayaan, kedekatan spiritual dan kehidupan alam masyarakat Dayak. Setiap motif menyampaikan nilai kehidupan yang diwariskan leluhur.
Sementara gambar patung Tambun dan Bungai merepresentasikan dua tokoh legendaris yang dikenal sebagai sosok sakti pelindung rakyat yang berhasil mengalahkan musuh dari luar, sehingga mereka dihormati.
Selain itu, logo juga menampilkan rumah adat Betang sebagai simbol nilai gotong royong, kebersamaan, dan kerukunan masyarakat Dayak.
Papan nama festival dirancang bergaya logam emas tempaan dengan tulisan berwarna emas, melambangkan kemewahan, kekayaan dan kesuksesan, serta keanggunan. (IST)









