Kuala Kurun – Fernando Clean, seorang murid asal Sekolah Dasar (SD) Negeri 3 Tampang Tumbang Anjir menjadi juara 1 Lomba Bercerita Tingkat SD sederajat se-Kabupaten Gunung Mas (Gumas), yang diselenggarakan di Kuala Kurun, Kamis (29/4/2021) lalu.
Guru Pembina dan Pendamping dari SD Negeri 3 Tampang Tumbang Anjir, Yuni Herniasihati mengatakan, cerita yang dibawakan oleh Fernando Clean merupakan cerita yang diambil dari Buku Cerita Rakyat Kalimantan Tengah dengan judul Bukit Batu Suli, yang ditulis oleh Rensi Sisilda.
“Ada beberapa bagian dari buku tersebut yang tidak kami sertakan, karena disesuaikan dengan lomba yang diadakan untuk murid-murid SD. Namun pada intinya tidak menghilangkan pesan moral dari cerita,” ucap Yuni saat dihubungi melalui telepon seluler, Senin (3/5/2021).
Adapun cerita Legenda Batu Suli yang dibawakan oleh Fernando Clean saat lomba adalah sebagai berikut. Menurut legenda yang beredar di Kalimantan Tengah, pada zaman dahulu kala antara langit dan bumi sangat dekat jaraknya. Karena jaraknya yang sangat dekat, bisa ditempuh melalui perbukitan dan gunung.
Ada sebuah bukit atau gunung yang menjulang tinggi dan berbatu disebut dengan Puruk Sanukui. Konon, Puruk Sanukui merupakan tangga, karena sebagai jalan naik turunnya sepasang raksasa yang tinggal di langit.
Raksasa yang sangat besar dan kuat ini bernama Garahasi dan Garahasa. Mereka sudah lama sangat menginginkan turun ke bumi atau dunia, namun bangsa manusia sangat ketakutan dan cepat bersembunyi apabila sepasang raksasa itu sudah turun ke bumi.
Hal itu membuat murka Ranying Hatala Langit, dan Ranying Hatala Langit memanggil panglimanya, yaitu Raja Tunggal Sangumang.
“Sangumang, turunlah ke bumi untuk membantu bangsa manusia. Darung Bawan dan Patahu akan menemanimu di perjalanan. Kemudian, setibanya kalian di bumi, temuilah para pemuda perkasa yang berasal dari Desa Tumbang Pajangei yang bernama Rambang, Ringkai, dan Sangen.”
“Baiklah, Tuanku. Kami akan segera berangkat menuju bumi,” sahut Raja Tunggal Sangumang.
Setibanya mereka di bumi, tibalah mereka di Desa Tumbang Pajangei. Berkat bantuan penduduk setempat, mereka tidak membutuhkan waktu yang lama untuk dapat menemui ketiga pemuda yang gagah berani itu, yaitu Rambang, Ringkai, dan Sangen.
Setelah mendengar bahwa Rambang, Ringkai, dan Sangen telah tiba, Raja Tunggal Sangumang, Darung Bawan, Patahu (roh halus), para tetua adat, dan tokoh masyarakat di kampung tersebut berkumpul. Mereka berunding tentang cara mengalahkan raksasa Garahasa dan Garahasi.
Rambang pun bertanya pada Raja Tunggal Sangumang. “Saudara Sangumang, Anda telah diutus oleh Ranying Hatala Langit untuk membantu kami. Apakah Anda memiliki cara supaya para raksasa itu tidak lagi memangsa kami?”
Raja Tunggal Sangumang pun berpikir sejenak dan berkata, “Kalau menghadapi para raksasa itu, jelas kita pasti kalah. Sepertinya, jalan satu-satunya adalah memotong jalan mereka, yakni Puruk Sanukui.”
Keesokan harinya masyarakat kampung yang telah terpilih untuk memotong Puruk Sanukui telah bersiap. Setibanya di Puruk Sanukui, mereka mulai bekerja membuat tangga atau para-para untuk menebang. Ada yang menebang pohon, baik pohon besar maupun kecil, untuk tiang dan lantai tangga.
Mereka bekerja bahu-membahu dan tidak mengenal lelah untuk mengerjakan tangga tersebut. Akhirnya, dalam beberapa hari saja pembuatan tangga itu pun selesai.
Setelah tiga hari lamanya, bagian tengah puruk itu hanya tinggal tersisa sedikit, tetapi puruk itu tidak juga tumbang. Semua orang menjadi kebingungan. Oleh karena itu, Raja Tunggal Sangumang mencari tahu akan hal itu. Kemudian, dia menengadah ke atas.
“Walaupun sudah habis kita potong, Puruk Sanukui ini tidak akan tumbang karena ujung atas Puruk Sanukui itu ditahan oleh raksasa Garahasi dan Garahasa,” kata Raja Tunggal Sangumang.
Darung Bawan dengan seluruh kekuatannya menendang puruk itu ke arah selatan. Puruk Sanukui yang ditendang oleh Darung Bawan terlempar sangat jauh sampai ke muara Sungai Katingan.
Puruk Sanukui yang ditendang oleh Darung Bawan ke muara Sungai Katingan saat ini dikenal dengan nama Batu Mandi yang terletak di dekat Pulau Damar, sedangkan sebuah bongkahan terjatuh tidak jauh dari Puruk Sanukui, yaitu di sekitar Desa Tumbang Manange.
Setelah Puruk Sanukui berhasil ditendang oleh Darung Bawan, tidak ada lagi tangga untuk raksasa Garahasi dan Garahasa turun ke bumi/dunia. Jadi, bangsa manusia telah aman dari Garahasi dan Garahasa.
Namun mereka tak mengetahui bahwa ada bongkahan puruk yang jatuh di dekat muara sungai Katingan yang sangat mengganggu masyarakat dan ikan – ikan.
Setelah sekian lama berada di kayangan, Raja Tunggal Sangumang dan Darung Bawan ingin kembali melihat bumi/ dunia dan berjumpa kembali dengan Rambang dan saudara-saudaranya. Oleh sebab itu, mereka turun kembali ke bumi/ dunia, menuju Desa Tumbang Pajangei.
Mereka pun berjalan menyusuri sungai dan sampai di dekat sebuah desa, yakni Desa Tumbang Manange atau sekarang dikenal dengan nama Desa Upun Batu. Keduanya berhenti, lalu duduk santai sambil mengunyah tebu.
Ketika mereka sedang menikmati pemandangan, tiba – tiba Raja Tunggal Sangumang berkata, “Hai, Darung, lihatlah! Bukankah bongkahan batu itu potongan puruk yang kau tendang dahulu”.
“Wah, ternyata benar adanya dan bongkahan puruk ini ternyata menutupi aliran Sungai Kahayan,” Kata Darung Bawan.
“Wah, kasihan masyarakat sekitar tempat ini. Kasihan juga ikan-ikan di dalamnya. Pasti mereka tidak dapat ke hilir ataupun ke hulu. Ini akibat perbuatan kita dahulu,” kata Raja Tunggal Sangumang.
Darung Bawan langsung turun ke Sungai Kahayan dan mengangkat bongkahan puruk itu, lalu meletakkannya di tepi sungai. Akan tetapi, batu itu terguling kembali. Raja Tunggal Sangumang mendekat, lalu batu itu diganjalnya dengan dua ruas tebu yang masih tersisa dikunyahnya dan beberapa batang suli.
“Wah, itu ide yang bagus. Bawakan ke sini batang suli itu dan ganjallah batu ini,” kata Raja Tunggal Sangumang. Darung Bawan pun mengambil semua batang suli dan menggunakannya sebagai pengganjal. Akhirnya, batu itu pun berhasil mereka ganjal dan tidak terguling lagi. Maka, bongkahan itu di sebut bukit Batu Suli.
Cerita tersebut mengajarkan pentingnya untuk bekerja sama. Hal yang sulit akan terasa lebih mudah apabila dilakukan bersama-sama.









