Oleh : Anita Desmarini (Statistisi Pelaksana Lanjutan pada BPS Kabupaten Gunung Mas)
ASI (Air Susu Ibu) merupakan makanan terbaik bagi bayi berusia 0-6 bulan. Hal ini dikarenakan ASI mudah dicerna dalam sistem pencernaan bayi yang baru lahir.
Berbagai penelitian menyebutkan bahwa bayi pada usia tersebut disarankan untuk mengkonsumsi ASI saja, tanpa disertai makanan tambahan apapun, kecuali jika terdapat indikasi medis dalam pantauan dokter.
Kemudian dapat dilanjutkan dengan tambahan berupa makanan pendamping sampai dengan usia dua tahun.
ASI yang diberikan selama enam bulan pertama tanpa diberikan makanan tambahan, disebut dengan ASI eksklusif.
Pemberian asi eksklusif sangat dianjurkan, karena dalam kandungan ASI terdapat berbagai manfaat yang tidak ditemukan pada makanan lain.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebutkan bahwa ASI mengandung nutrisi esensial yang cukup untuk bayi, walaupun ibu dalam kondisi kurang gizi sekalipun dan mampu mengatasi infeksi melalui komponen sel fagosit (pemusnah) dan imunoglobulin (antibodi).
Komponen ASI lain yang juga mempunyai efek perlindungan, antara lain sitokin, laktoferin, lisozim dan musin.
Di dalam semua kebaikan yang dimiliki ASI, pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan capaian ASI ekslusif.
Di antaranya ialah dukungan pemerintah melalui Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 450/MENKES/SK/IV/2004 Tentang Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Secara Eksklusif pada Bayi di Indonesia.
Keputusan tersebut memuat tentang anjuran lamanya pemberian ASI dan penetapan Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (LMKM), yang nantinya disampaikan oleh semua tenaga kesehatan yang bekerja di semua pelayanan kesehatan kepada semua ibu yang baru melahirkan.
Direktorat Gizi Kementrian Kesehatan menyebutkan bahwa tiap daerah diberikan wewenang dalam menerapkan kebijakan tentang pemberian ASI eksklusif. Mengingat pentingnya ASI eksklusif, capaian pemberian ASI eksklusif diharapkan dapat mencapai angka setinggi mungkin.
Safitri A, dkk dalam penelitiannya menyebutkan bahwa terdapat beberapa faktor yang memengaruhi pemberian ASI eksklusi, di antaranya ialah pengetahuan ibu, dukungan keluarga, ibu bekerja, dukungan nakes, kesehatan ibu, sarana, kebiasaan keluarga, usia ibu, psikologis ibu, media, dan jumlah asi yang diproduksi ibu kurang.
Berdasarkan hasil dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2021 dari Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk berumur 0 hingga 5 bulan yang masih diberi ASI sejak lahir hingga 24 jam terakhir tanpa diberikan makanan pendamping apapun di Kabupaten Gunung Mas ialah sebesar 48,02 persen.
Capaian ini tentu masih perlu ditingkatkan, mengingat pentingnya ASI dalam membentuk anak-anak yang sehat dan cerdas.
Hal ini senada dengan pernyataan dari Menkes pada acara puncak Pekan ASI Sedunia (PAS) tahun 2016 yang dibacakan Dirjen Kesmas, Anung Sugihantono, di kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, yang menyebutkan bahwa anak-anak yang mendapatkan ASI Eksklusif cenderung memiliki intelegensia yang lebih tinggi dan memiliki daya tahan tubuh yang lebih kuat.
Begitu juga dengan ibu yang memberikan ASI memiliki risiko yang lebih rendah untuk terkena kanker payudara dan kanker rahim.
Berkaca dari berbagai manfaat yang didatangkan dari ASI dan capaian ASI eksklusif di Indonesia, khususnya di Kabupaten Gunung Mas, maka perlu adanya peran aktif dari berbagai pihak untuk meningkatkan capaian ASI eksklusif menjadi lebih meningkat.
Peran tersebut, diperlukan dari keluarga, lingkungan kerja, fasilitas dan tenaga kesehatan, serta pemerintah setempat.
Di antaranya, perlu adanya dukungan nyata agar tenaga kesehatan yang menangani ibu melahirkan berperan aktif dalam memberikan pengetahuan serta bimbingan bagi ibu yang baru melahirkan serta keluarga yang mendampingi.
Dari situ, diharapkan ibu menjadi mandiri untuk menyusui anaknya dan memiliki tekad yang kuat untuk memaksimalkan upayanya dalam memberikan ASI.
Pemerintah dapat memberikan dukungan untuk mengadakan pelatihan bagi petugas kesehatan agar memiliki pengetahuan terkait tercapainya ASI eksklusif.
Pemerintah juga perlu memberi imbauan kepada tenaga kesehatan agar memberikan sosialisasi dan bimbingan tersebut kepada ibu yang baru melahirkan beserta keluarganya.
Selain itu, penyediaan fasilitas konsultasi menyusui juga diperlukan demi keberhasilan demi kesuksesan program ASI eksklusif.







