Oleh : Anita Desmarini (Statistisi Ahli Pertama pada BPS Kabupaten Gunung Mas)
MASAPNEWS – Capaian imunisasi secara menyeluruh menjadi suatu upaya yang terus digencarkan oleh pemerintah. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk melindungi masyarakat dari suatu penyakit tertentu. Manfaat dari imunisasi tidak bisa disepelekan, karena ketika tercapai kekebalan kelompok atau yang disebut sebagai herd immunity, maka kelompok tersebut akan terlindungi dari suatu penyakit, sehingga penularan yang terus menerus dapat dicegah dengan maksimal. Disamping itu, cakupan imunisasi yang tidak merata serta rendah dapat menyebabkan suatu populasi yang rentan dan tidak memiliki kekebalan terhadap penyakit yang seharusnya dapat dicegah melalui imunisasi. Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi atau disebut dengan PD3I antara lain polio, hepatitis B, pertusis, difteri, haemophilus influenzae tipe B, campak dan tetanus. Kasus PD3I yang meningkat dan tidak bisa dikendalikan dapat menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB).
Pada tahun 2021, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan RI Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu, DHSM., MARS menyebutkan bahwa diperlukan capaian imunisasi rutin minimal sebesar 95 persen secara merata agar kekebalan kelompok tercapai. Capaian tersebut ialah capaian secara menyeluruh di semua wilayah sampai unit terkecil setingkat desa atau kelurahan. Beliau juga mendorong pemerintah daerah untuk merealisasikan target minimum cakupan imunisasi sebesar 79,1 persen.
Masing-masing pemerintah daerah, khususnya dinas Kesehatan tentunya telah mengupayakan capaian imunisasi semaksimal mungkin, tidak terkecuali Kabupaten Gunung Mas. Badan Pusat Statistik (BPS) melalui data Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) kondisi maret 2022 menunjukkan bahwa persentase balita yang pernah mendapat imunisasi menurut jenis imunisasi masing-masing adalah 89,73 persen untuk BCG; 92,09 persen untuk polio; 91,14 persen untuk DPT; 94,48 persen untuk hepatitis B; dan 72,72 persen untuk campak.

Data tersebut menunjukkan bahwa capaian persentase balita yang pernah mendapatkan imunisasi untuk masing-masing jenis sudah baik. Namun memang perlu dilakukan upaya yang lebih lagi agar capaian tersebut bisa semakin mendekati ke angka 100 persen, yang artinya semua balita sudah pernah mendapat imunisasi untuk masing-masing jenis imunisasi tersebut.
Upaya ini perlu ditingkatkan, terutama untuk capaian imunisasi campak yang pada kondisi maret 2022 masih mencapai 72,72 persen dari total balita yang ada di Kabupaten Gunung Mas.
Imunisasi di suatu wilayah yang belum mencakup ke semua masyarakat bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Identifikasi penyebab secara tepat menjadi poin penting dalam permasalahan ini. Suatu wilayah bisa saja didominasi oleh masyarakat yang memiliki keraguan tentang manfaat imunisasi ataupun bisa jadi permasalahan terletak pada minimnya fasilitas imunisasi yang dapat dijangkau oleh masyarakat, baik dari segi jarak, medan tempuh, maupun ketersediaan sumber daya tenaga kesehatan. Untuk itu, Langkah yang dapat diambil untuk menyelesaikan permasalahan cakupan imunisasi ini ialah dengan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya imunisasi melalui sosialisasi pada berbagai media yang biasa dilihat masyarakat maupun secara tatap muka. Sosialisasi yang dilakukan sekaligus menjelaskan tentang hal-hal yang tidak benar mengenai imunisasi yang berpotensi membuat masyarakat menjadi ragu. Selain itu, upaya lain yang bisa dilakukan ialah dengan menjemput bola, yaitu menyisir masyarakat yang sekiranya belum mendapatkan imunisasi dengan mendatangi rumah ke rumah dan dilakukan sebagai kegiatan berkala.
Dari sini bisa kita lihat bahwa banyak pihak yang berperan dalam meningkatkan cakupan imunisasi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Misalnya, peran pemerintah dalam menyediakan fasilitas dan sumber daya yang berkualitas; sarana transportasi maupun jalan yang memadai; pihak penyedia data, peneliti dan akademisi melalui penelitiannya yang menyumbang penjelasan secara statistik dan melakukan identifikasi tentang faktor terbesar yang mempengaruhi angka cakupan imunisasi di suatu wilayah, sehingga dapat diambil kebijakan dengan memperhatikan skala prioritas. Selain itu media massa juga berperan sebagai wadah sosialisasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya imunisasi.







